Pengertian Muhkam dan Hikma Ayat Mutasyabih Dalam Al-Qur’an

Pengertian Muhkam dan Mutasyabih

Adapun menurut pengertian terminologi (istilah), muhkam dan mutasyabih diungkapkan para ulama, seperti berikut ini

  1. Ayat-ayat muhkam adalah ayat yang maksudnya dapat diketahui dengan gamblang, baik melalui takwil (metafora) ataupun tidak. Sementara ini ayat-ayat mutasyabih adalah ayat yang maksudnya hanya dapat diketahui Allah, seperti saat kedatangan hari kiamat, keluarnya Dajjal, dan huruf-huruf muqaththa’ah. Definisi ini dikemukakan kelompok Ahlussunnah.
  2. Ayat-ayat muhkam adalah ayat yang maknanya jelas, sedangkan ayat-ayat mutasyabih
  3. Ayat-ayat muhkam adalah ayat yang tidak memunculkan kemungkinan sisi arti lain sedangkan ayat-ayat mutasyabih mempunyai kemungkinan sisi arti banya definisi ini dikemukakan Ibn ‘Abbas.
  4. Ayat-ayat muhkam adalah ayat yang maknanya dapat dipahami akal seperti bilangan rakaat shalat, kekhususan bulan Ramadham untuk pelaksanaan puasa wajib. sedangkan ayat-ayat mutasyabih Pendapat ini dikemukakan oleh Al-mawardi.
  5. Ayat-ayat muhkam adalah ayat yang maksudnya dapat berdiri sendiri (dalam pemaknaannya). sedangkan ayat-ayat mutasyabih bergantung pada auat lain.
  6. Ayat-ayat muhkam adalah ayat yang maksudnya segera dapat diketahui tanpa penakwilan. sedangkan ayat-ayat mutasyabih memerlukan penakwilan untuk mengetahui maksudnya.
  1. Ayat-ayat muhkam adalah ayat yang lafazh-lafazhnya tidak berulang-ulang. sedangkan ayat-ayat mutasyabih
  2. berbicara tentang kefarduan, ancaman dan janji sedangkan ayat-ayat mutasyabih berbicara tentang kisah-kisah dan perumpamaan-perumpamaan
  3. Ibn Abi Hatim mengeluarkan sebuah dari ‘Ali bin Abi Thalib dari Ibn ‘Abbas yang mengatakan bahwa ayat-ayat muhkam adalah ayat yang menghapus (nasikh), berbicara tentang halal-haram, ketentuan-ketentuan (hudud), kefarduan, serta yang harus diimani dan diamalkan. Adapun ayat-ayat mutasyabih adalah ayat yang dihapus (mansukh), yang berbicara tentang perumpaman-perumpam (amtsal), sumpah (aqsam) dan yang diimani, tetapi tidak harus diamalkan.
  4. ‘Abdulah bin Hamid mengeluarkan sebuah riwayat dari Adh-Dhahak bin Al-Muzahim (w. 105 H) yang mengatakan bahwa ayat-ayat muhkam adalah ayat tidak dihapus, sedangkan ayat-ayat mutasyabih adalah ayat yang dihapus.
  5. Ibn Abi Hatim mengeluarkan sebuah riwayat dari Muqatil bi Hayyan yang mengatakan bahwa ayat-ayat mutasyabih seperti Alif lam mim, alif Lam ra’ dab alif lam mim ra’.
  6. Ibn Abi Hatim mengatakan bahwa’ikrimah (w.105 H), Qatadah bin Di’amah (w. 117 H) dan lainnya mengatakan bahwa Ayat-ayat muhkam adalah ayat yang harus diimani diamalkan, sedangkan ayat-ayat mutasyabih adalah ayat yang harus diimani, tetapi tidak harus diamalkan

Dari pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa ini muhkam adalah aayat-ayat yang maknanya sudah jelas, tidak samar lagi, masuk ke dalam kategori muhkam adalah nash (kata yang menunjukan sesuatu yang dimaksud dengan terang dan tegas, dan memang  untuk makna itu ia disebutkan) dan jelas. Masuk ke dalam kategori mutasyabih adalah mujmal (global), mu’awal (harus ditakwil) musykil, dan mubham (ambigus).

 

Sikap Para Ulama Terhadap Ayat-ayat Muhkan dan Mutasyabih

Sebagian besar sahabat, tabi’in, dan generasi sesudahnya, terutama kalangan Ahlussunnah, berpihak pada penjelasan gramatikal yang kedua. Ini pula yang merupakan riwayat paling sahih dari Ibn ‘Abbas.

As-Suyuthi mengatakan bahwa validitas pendapat kelompok kedua diperkuat riwayat-riwayat berikut ini:

  1. Riwayat yang dikeluarkan ‘Abd Ar-Razzaq dalam tafsirnya dan Al-Hakim dalam Mustadrak-nya dari Ibn ‘Abbas. Ketika membaca surat Ali Imran [3]: 7, Ibn ‘Abbas memperlihatkan bahwa huruf wawu pada ungkapan wa ar-rasikhuna berfungsi sebagai isti’naf (tanda kalimat baru). Riwayat ini, walaupun tidak didukung salah satu raqam qira’ah, derajatnya – serendah-rendahnya – adalah kabar dengan sanad sahih yang berasal dari Turjuman Al-Quran (Julukan Ibn ‘Abbas).
  2. Ibn Abu Dawud, dalam Al-Mashahif, mengeluarkan sebuah riwayat dari Al-A’masy.
riwayat dari Al-A’masy.

riwayat dari Al-A’masy.

Artinya:

Sesungguhnya penakwilan ayat-ayat mutasyabih hanya milik Allah semata, sedankan orang-orang yang mendalami ilmunya berkata, “ kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyabih”

 

Ar-Raghib Al-Asfahani mengambil tengah dalam menghadapi persoalan ini. Ia membagi ayat-ayat mutasyabih –  dari segi kemudian mengetahui maknanya – pada tiga bagian :

  1. Bagian yang tidak ada jalan sama sekali untuk mengetahuinya, seperti saat terjadinya hari kiamat, keluar binatang dari bumi dan sejenisnya.
  2. Bagian yang menyebabkan manusia dapat menemukan jalan untuk mengetahuinya, seperti kata-kata asing di dalam Al-Quran.
  3. Bagian yang terletak diantara keduanya, yakni yang hanya dapat diketahui orang-orang yang mendalami ilmunya.

Sikap para ulama terhadap ayat-ayat mutasyabih terbagi dalam dua kelompok yaitu :

  1. Madzhab salaf, yaitu para ulama yang mempercayai dan mengimani ayat-ayat mutasyabih dan menyerahkan sepenuhnya kepada Allah sendiri (tafwidh ilallah). Mereka menyucikan Allah dari pengertian-pengertian lahir yang mustahil bagi Allah dan mengimaninya sebagaimana yang diterangkan Al-Quran. Diantara ulama yang masuk ke dalam kelompok ini adalah Imam Malik.
Madzhab salaf

Madzhab salaf

Artinya:

Istimewa itu maklum, sedangkan caranya tidak diketahui dan mempelajarinya bid’ah. Aku mengira engkau adalah orang tidak baik. Keluarkan dia dari tempatku.

 

  1. Madzhab Khalaf, yaitu para ulam yang berpendapat perlunya menakwilkan ayat-ayat mutasyabih yang menyangkut sifat Allah sehingga melahirkan arti yang sesuai dengan keluhuran Allah.

Ibnu Qutaibah (w.276 H.) menentukan dua syarat bagi absahnya sebuah penakwilan. Pertama, maknya yang dipilih sesuai dengan hakikat kebenaran yang diakui oleh mereka yang memiliki otoritas. Kedua, arti yang dipilih dikenal oleh bahasa arab klasik. Syarat yang dikemukakan ini lebih longgar daripada syarat kelompok Azh-Zhahiriyyah yang menyatakan bahwa arti yang dipilih tersebut harus dikenal secara populer oleh masyarakat Arab pada masa awal.

Fawatih As-Suwar

Bentuk redaksi fawatih as-suwar di dalam Al-Quran dapat dijelaskan sebagai berikut :

  1. Terdiri atas satu huruf, terdapat pada tiga tempat : surat Shad [38] : 1 yang diawali huruf Shad, surat Qaf [50] : 1 yang diawali huruf qaf, surat Al-Qalam [68] : 1 yang diawali huruf nun.
  2. Terdiri atas dua huruf, terdapat pada sepuluh tempat : surat Al-Mukmin [40] : 1; surat Fushshilat [41] : 1 ; surat Asy-Syura [42] :1 ; Surat Az-Zukhruf [43] : 1 ; surat Ad-Dukhan [44] : 1 ; surat Al-Jatsiyyah [45] : 1 ; dan surat Al-Ahqaf [36] : 1 ; yang diawali huruf ha mim
  3. Terdiri atas tiga huruf, terdapat pada 13 tempat : surat Al-Baqarah [2] : 1
  4. Teridiri atas empat huruf, terdapat pada dua tempat : surat Al-A’raf [7] :1 yang diawali huruf alif lam mim shad dan surat Ar-Ra’d [13] : 1 yang diawali huruf alif lam mim ra’.
  5. Terdiri atas lima huruf, terdapat pada satu tempat : surat Maryam [19] : 1 yang diawali huruf kaf ha ya ‘ain shad.

 

Ali bin Abi Thalib dan Abu Bakar.Dalam satu riwayatnya ‘Ali Berkata

riwayat Ali bin Abi Thalib

riwayat Ali bin Abi Thalib

Artinya

Setiap kitab memiliki sari pati (safwah) dan sari pati Al-Quran adalah huruf-huruf ejaannya

 Riwayat senada diucapkan Abu Bakar

riwayat abu bakar

riwayat abu bakar

Artinya

Setiap kitab memiliki rahasia dan rahasia Al-Quran adalah permulaan-permulaan suratnya (awa’il as-suwar)

 Ahli hadis pun meriwayatkan bahwa para khalifah yang empat berkata,

para khalifah yang empat berkata

para khalifah yang empat berkata

Artinya

Huruf-huruf Al-Quran ini adalah ilmu tersembunyi dan rahasia yang hanya dapat diketahui oleh Allah semata.

 

Adapun kubu kedua melihat persoalan ini sebagai suatu rahasia yang juga dapat diketahui manusia

  1. Menurut Ahli Tafsir
  2. Menurut Ahli Teologi Dan Tasawuf
  3. Menurut Kalangan Orientalis

 

Hikma Keberadaan Ayat Mutasyabih dalam Al-Quran

  1. Memperlihatkan kelemahan akal manusia

Akal sedang dicoba untuk menyakini keberadaan ayat-ayat mutasyabih sebagaimana Allah memberi cobaan pada badan untuk beribadah

  1. Teguran bagi orang-orang yang mengotak-atik ayat mutasyabih

Pada penghujung surat Ali-Imran [3] ayat 7, Allah menyebutkan wa ma yadzdzakkaru illa ulu Al-albab  sebagai cercaan terhadap orang-orang yang mengotak-atik ayat-ayat mutasyabih.

  1. Memberikan pemahaman abstrak-ilahiah kepada manusia melalui pengalaman indrawi yang biasa disaksikannya.

Sebagaimana dimaklumi bahwa pemahaman diperoleh manusia tatkala ia diberi gambaran indrawi terlebih dahulu.

Kitapun dapat pula mengatakan bahwa semuat ayat Al-Quran mutasyabih  kalau mutasyabih  itu dimaksudkan sebagai “kesamaan” ayat-ayatnya dalam hal balaghah (eloquence) dan i-jaz (to desable) serta dalam hal kesukaran membedakan mana bagian-bagian Al-Qur’an yang lebih afdhal. Berdasarkan pengertian itulah Allah berfirman :

Az-Zumar,23

Az-Zumar,23

Artinya

Allah telah menurunkan turur-kata (berupa) Kitab (Al-Quran) yang serupa (mutu ayat-ayatnya), lagi berulang-ulang (Az-Zumar,23)

 

Jelaslah bahwa ayat-ayat  muhkam yang jelas dan terang maknanya tidak perlu kita bahas karena untuk dapat memahami maknanya kita cukup dengan membacanya. Tapi ayat-ayat yang mutasyabih  perlu kita bahas sekedarnya agar kita dapat mengetahui persoalannya, kemudian kesamaran yang ada di dalamnya kita tinggalkan dan tidak perlu kita permasalahkan seperti yang dilakukan oleh orang-orang yang dialam hatinya terdapat kecendrungan sesat.

Sebagian besar ulama berpendapat, ayat mutasyabih  tidak diketahui ta’wilnya oleh siapapun  kecuali Allah sendiri. Mereka mewajibkan supaya orang tidak mencari-cari ta’wilnya dan menyerahkan persoalan itu kepada Allah SWT. Adapun mereka yang dalam ilmunya mengenai Al-Quran berakhir pada ucpan : kami mengimaninya, semuanya datang dari Allah, Tuhan kami.

Meskipun demikian, Abu-Hasan Al-Asy’’ari berpendapat, ayat tersebut berhenti atau berakhir pada kalimat “ dan orang-orang yang berilmu dalam” dengan demikian para ulama itu mengetahui ta’wilnya. Pendapat tersebut diperjelas lagi oleh Abu Ishaq Asy-Syirazi yang mendukungnya dengan mengatakan”Pengetahuan Allah mengenai ta’wilnya ayat-ayat mutasybihat  itu dilimpahkan juga kepada para ulama yang ilmunya dalam, sebab firman yang diturunkan-Nya itu adalah pujian bagi mereka. Kalau mereka tidak mengetahui maknanya, berarti mereka sama dengan kaum awam”. Ar-Raghib al-Asfahani

 

2018-04-23T07:03:56+00:00