Contoh Makalah Mahasiswa Kebidanan Tentang Mekonium, FULL

Contoh Makalah Mahasiswa Kebidanan Tentang Mekonium Berikut ini saya sajikan secara FULL, Temen-temen tinggal copy paste dan print saja. Namun sertakan sumber UmiCima.Com ya. Biasakan budaya menghargai.. ^_^ Daripada disimpan di komputer dan laptop Umi, lebih baik UmiCima sharingkan disini, Semoga Makalah kebidanan tentang Mekonium ini dapat bermanfaat untuk temen-temen semua dimanapun anda berada.

Makalah Tentang Mekonium ini lengkap hingga daftar pustaka. Jika anda ingin meng-copy dan print untuk memenuhi tugas kampus kebindanan anda, UmiCima mempersilahkan. Namun Umi sarankan anda harus mahir MS. Office Word dan tau struktur penulisan makalah yang baik dan benar ya.. Agar setelah Contoh Makalah Kebidanan ini anda copy paste di halaman Office Word rapi saat di print. Ohya, untuk halaman Cover (sampul) buat sendiri ya.. Berikut langsung saja selengkapnya Makalah Mahasiswa Kebidanan untuk anda :

 

 

Contoh Makalah Mahasiswa Kebidanan Tentang Mekonium, FULL

Contoh Makalah Mahasiswa Kebidanan Tentang Mekonium, FULL

 

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kepada ALLAH SWT yang telah memberikan segala kemudahan sehingga makalah ini dapat disusun dan diberi judul “MAKALAH MEKONIUM”

Dalam penulisan makalah ini penulis berusaha menyajikan tentang hal-hal yang berhubungan dengan mekonium .

Makalah ini ditulis dengan bahasa yang sederhana, singkat serta mudah dicerna isinya oleh pembaca.Penulis menyadari bahwa makalah ini jauh dari sempurna, masih terdapat kekurangan dan kekeliruan maka penulis senantiasa menerima kritik dan saran yang sifatnya membangun dan dapat memperbaiki serta melengkapi makalah ini. Harapan penulis semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi para pembaca. Amin.

Download Makalah Kebidanan Tentang Mekonium .doc/.docx Microsoft Word DISINI :

 

 

DAFTAR ISI

 

Kata Penganatar……………………………………………………………………………………………………. i

Daftar Isi……………………………………………………………………………………………………………… ii

BAB I Pendahuluan………………………………………………………………………………………………. 1

  • Latar Belakang……………………………………………………………………………………………….. 1
  • Rumusan Masalah……………………………………………………………………………………………. 2
  • Tujuan…………………………………………………………………………………………………………… 2

BAB II Pembahasan……………………………………………………………………………………………… 3

2.1 Definisi meconium……………………………………………………………………………………………. 3

2.2 kemungkinan penyebab ……………………………………………………………………………………. 4

2.3 mekonium aspirasi syndrome……………………………………………………………………………… 7

2.4 Etiologi………………………………………………………………………………………………………….. 9

2.5 patofisologi ……………………………………………………………………………………………………  10

2.6 gejala dan tanda ……………………………………………………………………………………………..  11

2.7 kompilikasi ……………………………………………………………………………………………………. 12

2.8 pengobatan ……………………………………………………………………………………………………  12

2.9 penatalaksanaan …………………………………………………………………………………………….. 14

BAB III PENUTUP…………………………………………………………………………………………….. 21

3.1 Saran……………………………………………………………………………………………………………. 21

DAFTAR PUSTAKA………………………………………………………………………………………….. 22

BAB I

PENDAHULUAN

  • Latar Belakang

Sindrom atau kumpulan gejala ini lebih umum terjadi pada bayi postmatur, yaitu mereka yang dilahirkan melewati 42 minggu usia kehamilan. Pada bayi tersebut, bayi yang stres karena kekurangan oksigen mengeluarkan mekonium. Mekonium adalah feses berwarna hijau gelap yang steril, yang diproduksi dalam usus sebelum kelahiran. Dalam kondisi normal, mekonium baru dikeluarkan setelah lahir ketika bayi mulai menyusui. Namun, sebagai respon stres bayi dapat mengeluarkan mekonium ke dalam cairan ketuban. Stres juga dapat menyebabkan janin mengeluarkan refleks terkejut yang mengambil napas kuat, sehingga mekonium terhirup ke dalam paru-paru.

Setelah kelahiran, mekonium yang terhirup ini dapat menghalangi saluran udara dan menyebabkan paru-paru tidak dapat mengembang. Saluran udara bisa tersumbat sebagian atau seluruhnya. Air ketuban dan mekonium juga bisa menumpuk dalam rongga dada di sekitar paru-paru (pneumotoraks), yang dapat menyebabkan radang paru-paru (pneumonitis) dan meningkatkan risiko infeksi paru-paru dan hipertensi pulmonar persisten (persistent pulmonary hypertension of the newborn/PPHN).

Sindrom aspirasi mekonium pada bayi baru lahir postmatur dapat berakibat parah karena mereka memiliki volume cairan ketuban yang lebih kecil sehingga mekonium lebih terkonsentrasi dalam cairan ketuban

  

 

  • Rumusan Masalah

Rumusan masalah makalah ini adalah sebagai berikut:

  • Apa pengertian Mekonium
  • Apa saja Penyebab Mekonium
  • Apa saja gejalanya bayi terkena mekonium
  • Bagaimana Perawatan dan Pengobatanbayi terkena Mekonium
  • Tujuan

Tujuan pembuatan dari makalah ini adalah sebagai berikut :

  • Mahasiswa dapat mengerti pengertian mekonium
  • Mahasiswa dapat mengerti bagaimana perawatan dan pengobatan bayi yang terkena mekonium
  • Serta mahasiswa dapat mengetahui apa saja penyebab dan gejala Mekonium

 

BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Definisi mekonium

Mekonium adalah kotoran pertama bayi yang berwarna hijau dan sedikit kental. Meskipun tidak berbau layaknya kotoran orang dewasa, mekonium biasanya membuat ibu harus sedikit repot saat mencuci popok karena sifatnya yang lengket dan sulit dibersihkan. Apalagi, hal ini biasanya berlangsung hingga beberapa hari setelah melahirkan.

Walau merepotkan, hadirnya mekonium merupakan pertanda yang baik. Ini berarti bahwa pencernaan bayi dalam keadaan yang baik dan normal. Pengeluaran mekonium pertama normalnya harus terjadi dalam waktu 24 jam setelah lahir. Kegagalan pengeluaran mekonium oleh bayi yang lahir cukup bulan dalam waktu tersebut mungkin merupakan tanda adanya sumbatan pada usus. Pada bayi yang lahir prematur, pengeluaran mekonium pertama umumnya sedikit terlambat. Namun, jika tidak kunjung datang, dokter perlu mencurigai adanya kelainan dalam perut si kecil.

Bila ada sumbatan, si kecil bisa-bisa tidak kunjung buang air besar setelah lahir dan perutnya dapat tampak sangat membesar. Bayi dapat menolak diberi susu, bahkan memuntahkan cairan berwarna kekuningan atau kehijauan. Jika ini terjadi, Anda perlu segera membawanya ke rumah sakit. Jika diraba, dokter biasanya menemukan adanya pelebaran usus besar yang juga terlihat dari luar. Dalam hal ini, dokter harus melakukan pemeriksaan anus untuk mencari kemungkinan adanya atresia ani (kegagalan pembentukan anus) dan stenosis anus. Selain itu, dokter dapat melakukan rontgen dan beberapa pemeriksaan lain untuk mencari penyebab mengapa mekonium tidak dapat keluar.

2.2 Kemungkinan Penyebab

Saluran pencernaan manusia merupakan pipa yang sangat panjang. Penyebab kegagalan buang air besar pada bayi dapat berasal dari seluruh bagian saluran pencernaan ini. Pada usus halus, misalnya, kegagalan ini dapat disebabkan oleh atresia duodenum dan atresia jejunoileal (ada bagian usus yang tertutup), malrotasi dan volvulus (terpuntirnya usus), ileus mekonium, dan peritonitis mekonium (peradangan dinding usus). Sumbatan pada usus halus biasanya ditandai dengan muntah berwarna kekuningan, yang dapat disertai atau tidak disertai oleh perut yang membesar.

Sumbatan pada usus besar dapat disebabkan oleh penyakit Hirschsprung, malformasi anorektal (kelainan pembentukan rektum dan anus), dan sindrom sumbatan mekonium. Sedangkan pada ujung saluran pencernaan, dapat terjadi kelainan berupa kegagalan pembentukan anus.

Umumnya penyebab sumbatan mekonium dapat segera diketahui berdasarkan hasil wawancara terhadap orang tua, pemeriksaan fisik, diikuti pemeriksaan foto rontgen perut dengan dan tanpa pemberian bubur barium, manometri anus, dan biopsi rektum. Meski demikian, penanganan sumbatan ini dapat rumit, memerlukan waktu lama serta melibatkan sejumlah tindakan operasi.

Meski dapat disebabkan oleh kelainan pembentukan saluran pencernaan, tapi hambatan keluarnya mekonium banyak juga yang disebabkan oleh masalah sederhana, yaitu sembelit. Gangguan ini disebut dengan meconium plug syndrome. Pada gangguan ini, mekonium yang seharusnya kental malah menjadi padat, mengeras, dan bercokol di usus besar. Hal ini cukup sering terjadi, tapi penyebabnya belum diketahui.

Mekonium yang mengeras ini biasanya dapat terdorong dengan pemberian enema saat dilakukan pemeriksaan rontgen. Ada juga yang kemudian sukses buang air besar setelah anus dirangsang menggunakan termometer, colok dubur, atau dengan memasukkan larutan garam. Setelah saluran terbebas dari hambatan, si kecil pun dapat buang air besar dengan lancar dan normal. Meski demikian, si kecil perlu tetap diawasi. Jika sembelit sering terjadi, mungkin diperlukan pemeriksaan dan tindakan lanjutan, terutama jika si kecil ternyata mengalami penyakit Hirschsprung.

Selain pada usus besar, meconium plug dapat terjadi pada perbatasan antara usus halus dan usus besar atau ileum. Hal ini disebut dengan meconium ileus. Meconium ileus yang ringan dapat diatasi dengan pemberian cairan obat melalui anus dan cairan infus. Namun, jika tidak berhasil mungkin diperlukan pengeluaran melalui pembedahan dan irigasi. Ileus yang terlalu lama dan berat dapat menimbulkan komplikasi berupa atresia, perforasi, dan peritonitis, yang harus dioperasi dengan segera.

Kegagalan buang air besar pertama pada bayi dapat disebabkan pula oleh faktor non fisik. Penyakit seperti hipotiroidisme, hiperkalsemia, hipokalemmia, sepsis, dan penyakit jantung kongestif pada bayi juga dapat menjadi penyebab.

  Selain itu, ada juga kegagalan yang dipengaruhi oleh faktor dari ibu. Obat-obatan yang dikonsumsi ibu, seperti obat terlarang, magnesium sulfat dan obat penghambat ganglion dapat ikut memengaruhi bayi dan menghambat perjalanan mekonium.

Kelainan berupa meconium ileus yang tidak segera ditangani dapat menimbulkan komplikasi serius dan berbahaya. Misalnya kematian jaringan usus dan perforasi atau berlubangnya usus, yang berujung pada infeksi berat dan kematian.

2.3 MEKONIUM ASPIRASI SYNDROM

  1. DEFENISI

Sindroma aspirasi mekonium (SAM) adalah kumpulan gejala yang diakibatkan oleh terhisapnya mekonium kedalam saluran pernafasan bayi. Sindroma Aspirasi Mekoniuim terjadi jika janin menghirup mekonium yang tercampur dengan cairan ketuban, baik ketika bayi masih berada di dalam rahim maupun sesaat setelah dilahirkan.  Mekonium adalah tinja janin yang pertama. Merupakan bahan yang kental, lengket dan berwarna hitam kehijauan, mulai bisa terlihat pada kehamilan 34 minggu.

Pada bayi prematur yang memiliki sedikit cairan ketuban, sindroma ini sangat parah. Mekonium yang  Terhirup lebih kental sehingga penyumbatan saluran udara lebih berat. BAB II

 Definisi :

Aspirasi mekonium (meconium aspiration syndrome) adalah sekumpulan gejala

disfungsi pernafasan yang terjadi karena cairan amnion yang mengandung

inhalasi oleh janin. Aspirasi mekonium merupakan suatu keadaan serius yang

menjadi salah satu penyebab kematian bayi baru lahir. 

 

 

2.4    ETIOLOGI

Aspirasi mekonium terjadi jika janin mengalami stres selama proses persalinan berlangsung. Bayi seringkali merupakan bayi post-matur (lebih dari 40 minggu). Selama persalinan berlangsung, bayi bisa mengalami kekurangan oksigen. Hal ini dapat menyebabkan meningkatnya gerakan usus dan pengenduran otot anus, sehingga mekonium dikeluarkan ke dalam cairan ketuban yang mengelilingi bayi di dalam rahim. Cairan ketuban dan mekoniuim becampur membentuk cairan berwarna hijau dengan kekental yang bervariasi. Jika selama masih berada di dalam rahim janin bernafas atau jika bayi menghirup nafasnya yang pertama, maka campuran air ketuban dan mekonium bisa terhirup ke dalam paru-paru. Mekonium yang terhirup bisa menyebabkan penyumbatan parsial ataupun total pada saluran pernafasan, sehingga terjadi gangguan pernafasan dan gangguan pertukaran udara di paru-paru. Selain itu, mekonium juga menyebabkan iritasi dan peradangan pada saluran udara, menyebabkan suatu pneumonia kimiawi.

Cairan ketuban yang berwarna kehijauan disertai kemungkinan terhirupnya cairan ini terjadi pada 5-10% kelahiran. Sekitar sepertiga bayi yang menderita sindroma ini memerlukan bantuan alat pernafasan.

Aspirasi mekonium merupakan penyebab utama dari penyakit yang berat dan kematian pada bayi baru lahir.

Faktor resiko terjadinya sindroma aspirasi mekonium:

         Kehamilan post-matur

         Pre-eklamsi

         Ibu yang menderita diabetes

         Ibu yang menderita hipertensi

         Persalinan yang sulit

         Gawat janin

         Hipoksia intra-uterin (kekurangan oksigen ketika bayi masih berada dalam rahim).

2.5   PATOFISOLOGI

SAM seringkali dihubungkan dengan suatu keadaan yang kita sebut fetal distress. Pada keadaan ini, janin yang mengalami distres akan menderita hipoksia (kurangnya oksigen di dalam jaringan). Hipoksia jaringan menyebabkan terjadinya peningkatan aktivitas usus disertai dengan melemasnya spinkter anal. Maka lepaslah mekonium ke dalam cairan amnion.

Apa yang terjadi bila mekonium terhisap ke dalam saluran pernafasan? Mekonium tersebut akan menyumbat (sebagian ataupun seluruh) saluran pernafasan bayi. 

 

 

2.6    GEJALA DAN TANDA

Gejalanya berupa:

  Cairan ketuban yang berwarna kehijauan atau jelas terlihat adanya mekonium di dalam cairan ketuban

  Kulit bayi tampak kehijauan (terjadi jika mekonium telah dikeluarkan lama sebelum persalinan)

  Ketika lahir, bayi tampak lemas/lemah

  Kulit bayi tampak kebiruan (sianosis)

  Takipneu (laju pernafasan yang cepat)

  Apneu (henti nafas)

  Tampak tanda-tanda post-maturitas 

 

 

 

2.7      KOMPLIKASI

  1. Displasia bronkopulmoner
  2. Pneumotoraks
  3. Aspirasi pnemonia

Bayi yang menderita SAM berat mempunyai kemungkin lebih besar untuk menderita mengi (wheezing) dan infeksi paru dalam tahun pertama kehidupannya. Tapi sejalan dengan perkembangan usia, ia bisa meregenerasi jaringan paru baru. Dengan demikian, prognosis jangka panjang tetap baik.

Bayi yang menderita SAM sangat berat mungkin akan menderita penyakit paru kronik, bahkan mungkin juga menderita abnormalitas perkembangan dan juga ketulian. Pada kasus yang jarang terjadi, SAM dapat menimbulkan kematian

 

2.8      PENGOBATAN

setelah kepala bayi lahir, dilakukan pengisapan lendir dari mulut bayi. Jika mekoniumnya kental dan terjadi gawat janin, dimasukkan sebuah selang ke dalam trakeabayi dan dilakukan pengisapan lendir. Prosedur ini dilakukan secara berulang sampai di dalam lendir bayi tidak lagi terdapat mekonium.

  Jika tidak ada tanda-tanda gawat janin dan bayinya aktif serta kulitnya berwarna kehijauan, beberapa ahli menganjurkan untuk tidak melakukan pengisapan trakea yang terlalu dalam karena khawatir akan terjadipneumonia aspirasi.

Jika mekoniumnya agak kental, kadang digunakan larutan garam untuk mencuci saluran udara. Setelah lahir, bayi dimonitor secara ketat. Pengobatan lainnya adalah:

  Fisioterapi dada (menepuk-nepuk dada)

  Antibiotik (untuk mengatasi infeksi)

  Menempatkan bayi di ruang yang hangat (untuk menjaga suhu tubuh)

  Ventilasi mekanik (untuk menjaga agar paru-paru tetap mengembang).

Gangguan pernafasan biasanya akan membaik dalam waktu 2-4 hari, meskipun takipneu bisa menetap selama beberapa hari. Hipoksia intra-uterin atau hipoksia akibat komplikasi aspirasi mekonium bisa menyebabkan kerusakan otak. Aspirasi mekonium jarang menyebabkan kerusakan paru-paru yang permananen. 

 

 

2.9   PENATALAKSANAAN

Tergantung pada berat ringannya keadaan bayi, mungkin saja bayi akan dikirim ke unit perawatan intensif neonatal (neonatal intensive care unit [/fusion_builder_column]

[NICU]). Tata laksana yang dilakukan biasanya meliputi :

 

  1. Umum

Jaga agar bayi tetap merasa hangat dan nyaman, dan berikoksigen.

  1. Farmakoterapi

Obat yang diberikan, antara lain antibiotika. Antibiotika diberikan untuk mencegah terjadinya komplikasi berupa infeksi ventilasi mekanik.

  1. Fisioterapi
    Yang dilakukan adalah fisioterapi dada. Dilakukan penepukan pada dada dengan maksud untuk melepaskan lendir yang kental.

Pada SAM berat dapat juga dilakukan:

  Pemberian terapi surfaktan.

   Pemakaian ventilator khusus untuk memasukkan udara beroksigen tinggi ke dalam paru bayi.

  Penambahan nitrit oksida (nitric oxide) ke dalam oksigen yang terdapat di dalam ventilator. Penambahan ini berguna untuk melebarkan pembuluh darah sehingga lebih banyak darah dan oksigen yang sampai ke paru bayi. Bila salah satu atau kombinasi dari ke tiga terapi tersebut tidak berhasil, patut dipertimbangkan untuk menggunakan extra corporeal membrane oxygenation(ECMO). Pada terapi ini, jantung dan paru buatan akan mengambil alih sementara aliran darah dalam tubuh bayi. Sayangnya, alat ini memang cukup langk.

MEKONIUM ASPIRASI SYNDROM

 

  1. PENGKAJIAN
  • Cairan amnion tercemar mekonium
  • Kulit bayi diliputi mekonium
  • Tali pusat dan kulit bayi berwarna hijau kekuningan
  • Gangguan napas (merintih, sianosis, napas cuping hidung, retraksi, takipnue)
  • Biasanya disertai tanda bayi lebih bulan
  1. DIAGNOSA KEPERAWATAN

(1) Resiko tingi insufisiensi pernafasan berhubungan dengan aspirasi mekonium

Tujuan 1.

 Mencegah dan mengeluarkan mekonium yang teraspirasi pada saat lahir atau setelahnya

Intervensi :

  Observasi kebutuhan akan suctioning nasofaring saat kepala bayi lahir. Mekonium dalam cairan amnion merupakan indikasi dilakukan suction sebelum bayi baru lahir bernafas

  Lakukan suction pada trakhea infant dengan selang endotrakheal setelah kelahiran. Prosedur ini dilakukan sebelum menstimulasi infant jika ditemukan mekonium untuk mencegah aspirasi lebih lanjut

  Lanjutkan suction pada mulut bayi untuk mengeluarkan partikel mekonium yang lebih besar. Infant yang teraspirasi mekonium memerlukan resusitasi, khususnya infant yang mengalami disstress pernafasan

  Berikan istirahat dan ketenangan pada infant. Menangis atau agitasi dapat meningkatkan tekanan intra thorakal, menyebabkan pneumothorax

Tujuan 2.

 Identifikasi dan minimalkan kegagalan pernafasan setelah kelahiran

Intervensi :

  Kaji status respirasi yang mengindikasikan aspirasi mekonium dan memerlukan tindakan segera seperti

  Frekuensi, kedalaman dan takipnea ( frekuensi nafas lebih dari 60 x/menit). Peningkatan frekuensi nafas menentukan peningkatan kebutuhan oksigen

  Grunting. Suara grunting terjadi karena penutupan glottis untuk menghentikan ekshalasi udara dengan desakan udara ke pita suara

   Nasal flaring.

  Retraksi dengan penggunaan otot bantu nafas. Retraksi mengindikasikan distensi paru yang tidak adekuat selama inspirasi

  Cyanosis. Cyanosis terjadi karena penurunan kadar oksigen dalam tubuh.

  Analisa gas darah menunjukkan peningkatan PCO2 dan penurunan PO2. Nilai tersebut mengindikasikan adanya acidosis

  Hasil serial ronqen dada. Dapat mengindikasikan atelektasis, hiperinflasi atau pneumothoraks

  Berikan therapi oksigen dan ventilasi mekanik dengan tekanan positif. Ventilasi mekanik kadang diperlukan kadang tidak. Tekanan positif diberikan setelah therapy bronkoskopi atau laringotrakheal untuk mencegah masuknya mekonium ke jalan nafas yang lebih kecil.

  Set ventilator mekanik untuk memberikan tekanan yang lebih tinggi dengan frekuensi nafas pendek (60 – 70 x /menit. Setting ini diperlukan untuk memberikan ventilasi alveoli bagian distal pada infant dengan aspirasi mekonium berat

  Pertahankan hiperoksigenasi dan nilai pH/AGD pada 7,45 – 7,55 dengan PCO2 22 – 30 mmHg. Hiperoksigenasi mencegah sirkulasi fetal persisten. Keadaan alkalosis respiratorik membentu menurunkan vasokontriksi paru pada infant dengan aspirasi mekonium.

  Berikan fisiotherapi dengan perkusi dan vibrasi setiap 1 – 2 jam. Gunakan percussor atau vibrator jika infant dapat mentoleransi treatment. Prosedur ini membantu mengeluarkan sekresi tapi prosedur ini dilakukan tergantung pada kondisi infant

  Cegah komplikasi infeksi (pneumonitis) dengan pemberian antibiotik IV sesuai pesanan (seperti ampicillin). Antibiotik menghancurkan bakteri dengan memecah dinding sel bakteri sehingga sel bakteri mati.

  Berikan aminoglycosides sesuai pesanan seperti kanamisin. Monitor kadar serum bayi. Aminoglycosides menghancurkan bakteri dengan menghambat sintesis protein sehingga sel bakteri mati. Berikan secara pelahan untuk mencegah toksisitas ginjal. Memonitor level serum memaksimalkan efeltifitas therapi obat.

  Jika dipesankan, berikan steroid untuk menurunkan respon inflamasi mekonium. Walaupun obat hidrokortison merupakan pilihan tetapi penggunaannya masih diperdebatkan.

  Siapkan infant untuk pembedahan dan pemasangan Extracorporeal Membrane Oksigenation (ECMO) Pump jika infant mengalami kerusakan fungsi paru yang berat. CCMD mempertahankan pertukaran dan perfusi gas. Pembedahan dilakukan untuk menanam dua tube kecil di leher dan menghubungkannnya dengan mesin ECMO yang memompakan darah melalui paru artificial. Prosedur ini memepertahankan infant tetap hidup sampai paru dapat didukung dengan ventilasi mekanik.

Jika ECMO Digunakan:

  1. Kaji intake dan output cairan infant. Mempertahankan keseimbangan cairan penting untuk mencegah overload cairan.
  2. Monitor PO2 atau nilai oksimetri. Nilai tersebut untuk mengevalusi oksigenasi jaringan
  3. Kaji status neurologik infant. Tanda neurologik menunjukkan perubahan status oksigenasi
  4. Suction saluran endotrakheal sesuai pesanan. Suctioning mempertahankan patensi jalan nafas dan membantu treatment.

(2). Koping keluarga yang tidak efektif berhubungan dengan kecemasan, rasa bersalah dan kemungkinan perawatan jangka panjang

Tujuan :

 Meminimalkan kecemasan, rasa bersalah dan memberikan dukungan selama krisis situasi.

 

 

Intervensi :

  Kaji ekpressi verbal dan non verbal, perasaan dan penggunaan koping mekanisme. Data tersebut diperlukan untuk membantu perawat untuk membangun koping yang konstruktif pada keluarga

  Anjurkan orangtua mengungkapkan perasaannya tentang keadaan sakit anaknya, perawatan yang lama, dan prosedur yang dilakukan pada anaknya. Verbalisasi membantu mempertahankan rasa percaya, menurunkan tingkat kecemasan orangtua dan meningkatkan keterlibatan orangtua

  Berikan informasi yang konsisten dan akurat tetang kondisi dan perkembangan bayinya, perawatan di masa yang akan datang, dan potensial problem pernafasan. Informasi akan menurunkan kecemasan terhadap keadaan bayinya.

  Anjurkan keluarga berkunjung, ikut memberikan perawatan bila mungkin. Kunjungan, komunikasi dan partisipasi pada perawatan infant membantu proses bounding

  Informasikan kepada orangtua tentang kebutuhan setelah pulang dan intruksikan prosedur yang penting saat di rumah. Beberapa infant membutuhkan bantuan ventilator setelah pulang ke rumah.

  Rujuk orangtua pada perawat komunitas dan informasikan tentang fasilitas kesehatan yang bisa dihubungi. Rujukan memberikan support kepada keluarga untuk terus mengontrol keadaan bayinya.

DIAGNOSA KEPERAWATAN LAIN YANG MUNGKIN

  Gangguan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan peningkatan kebutuhan kalori.

   Kecemasan orangtua berhubungan dengan kemungkinan kematian pada infant, respon terhadap perawatan yang lama, dan pemberian bantuan ventilator di rumah

  Resiko tinggi deficit volume cairan berhubungan dengan IWL dari peningkatan pernafasan

  Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan pneumonia sebagai akibat mekonium pada paru

  Resiko tinggi injury berhubungan dengan komplikasi pneumothoraks, atelectasis

  Kegagalan pertukaran gas berhubungan dengan pneumonitis chemical dan kegagalan fungsi paru akibat aspirasi meconium

  Inefektif bersihan jalan nafas berhubungan dengan aspirasi meconium

  Deficit pengetahuan orangtua berhubungan dengan perawatan jangka panjang setelah kepulangan.

BAB III

PENUTUP

  1. KESIMPULAN

Sindroma aspirasi mekonium (SAM) adalah kumpulan gejala yang diakibatkan oleh terhisapnya mekonium kedalam saluran pernafasan bayi. Sindroma Aspirasi Mekoniuim terjadi jika janin menghirup mekonium yang tercampur dengan cairan ketuban, baik ketika bayi masih berada di dalam rahim maupun sesaat setelah dilahirkan.  Mekonium adalah tinja janin yang pertama. Merupakan bahan yang kental, lengket dan berwarna hitam kehijauan, mulai bisa terlihat pada kehamilan 34 minggu.

Pada bayi prematur yang memiliki sedikit cairan ketuban, sindroma ini sangat parah. Mekonium yang  Terhirup lebih kental sehingga penyumbatan saluran udara lebih berat.

 

3.1      SARAN

Penulis menyadari masih banyak terdapat kekurangan pada makalah ini. Oleh karena itu, penulis mengharapkan sekali kritik yang membangun bagi makalah ini, agar penulis dapat berbuat lebih baik lagi di kemudian hari. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi penulis pada khususnya dan pembaca pada umumnya.

DAFTAR PUSTAKA

Doengoes, M. E. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan: Pedoman untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien. EGC. Jakarta.

Carpenito, Lynda Juall. 2001. Buku Saku Diagnosa Keperawatan. EGC. Jakarta.

Melson, Kathryn A. & Marie S. Jaffe. 1994. Maternal Infant Health Care Palnning, Second Edition, Springhouse Corporation. Springhouse.

Surasmi A, Handayani S, Kusuma H. N. 2002. Perawatan Bayi Resiko Tinggi. EGC. Jakarta.

Betz, Cecily Lynn. 2009. Edisi 5. Buku Saku Keperawatan Pediatri. EGC. Jakarta.

Sinclair, Constance. 2009. Buku Saku Kebidanan. EGC. Jakarta.

Arvin, Behrman Kliegman. 2000. Ilmu Kesehatan Anak. Edisi 15. EGC. Jakarta.

Betx, Cecily Lynn. 2004. Buku Saku Keperawatan Pediatrik.Edisi 5. EGC. Jakarta.

[/fusion_builder_row][/fusion_builder_container]
2017-08-28T11:29:25+00:00